Time:

Time:

Time:

Time:

Time:
Konseptualitas Otak Kanan dan Otak Kiri dalam suatu hubungan.
Mungkin sedikit memaknai kehidupan, iseng-iseng terpikirkan draft satu untuk sebuah corat-coret yang tanpa pernah tersadari betul, tereteterereeett… “apa itu suatu hubungan…???” jeng jeng…
Straight to the point, korelasi suatu hubungan layaknya ibarat dua sisi mata uang, jika kita melihatnya dari kedua belah sisi, maka masing-masing sisi tersebut tidak pernah akan bertemu (selalu berseberangan, berbelakangan, berpunggung-punggungan bla… bla…), dan itu sebuah makna bodoh untuk dipikirkan secara harfiah, so mari kita memikirkan nya dengan berlari-lari kecil sajah! (/^0^)/… hahaeeyyy…
Bagaimana jika kita melihatnya sebagai satu kesatuan (SETUJU!!! apanyaaa??? ituuuu… ooohhh… :hammer:), maka uang itu adalah uang. Dan dilihat dari berbagai sisinya tersebut pun tetap bermakna sebagai UANG. Demikian juga dengan suatu hubungan, di mana dua individu yang berbeda bertemu dengan bersebrang, berbelakang, berpunggung bla… bla… yang notabene penuh dengan perbedaan untuk satu ikatan yang berbuah “arti”. (glek…).
Oleh karena itu, korelasi suatu hubungan ini akan di jabarkan dengan prinsip kerja Otak, untuk menghasilkan satu "Jargon" : "Kita ini harus seperti Otak, layak nya Otak yang memiliki 2 Bagian namun tetap berhubungan dalam satu kesatuan yang selaras, serasi & seimbang".
Seperti yang dikemukakan oleh seorang neurolog, Gerald Edelman (pemenang hadiah nobel itu loh), “dibutuhkan lebih dari 32 juta tahun untuk menghitung semua sinaps di dalam otak manusia dengan kecepatan satu sinaps per detik. Jika dipusatkan perhatian pada kemungkinan jumlah hubungan saraf di dalam otak, maka didapati jumlah yang sangat menakjubkan yaitu 10 diikuti sejuta angka nol. Setiap saraf otak itu saling berhubungan dan berkomunikasi melalui satu hubungan atau lebih” (Restak, 2004:5), yang artinya (menurut saya loh) karena sensor saraf yang begitu ngebut-nya, bahkan saking kencang nya beberapa keputusan terkadang di ambil begitu cepat (bahkan terkadang juga berbanding lurus dengan ego). Walaupun demikian, setiap saraf yang ada dalam otak mempunyai tanggung jawab dan fungsi masing-masing sesuai dengan irama hati, begitupun sebaliknya (ceileh…).
Di samping itu, secara garis besar, otak manusia terbagi atas kerja otak belahan sebelah kanan, dan belahan otak sebelah kiri, tetapi aktifitas kerja kedua otak tersebut tidak terpisah. Aktivitas kedua otak itu saling menyatu dan juga saling membangun. Maka dari itu, Otak bekerja (beroperasi, berkedudukan dll) sesuai dengan fungsi dan kodrat nya.
Misalnya nih, kegiatan membaca itu dapat mengaktifkan area oksipital dan frontal. Mendengarkan musik dengan mata terpejam dapat mengaktifkan area temporal, frontal dan serebelum (cari tau sendiri arti nya yaa, biar cepet pinter…!).
Dalam penyampaian bahasanya pun kedua gender ini memiliki perbedaan dimana pengucapan sama namun terkadang memiliki arti yang berbeda (disinilah hal yang terkadang menjadi sesuatu akibat sesuatu, “perbedaan pendapat”). Semua itu dikarenakan kaum lelaki mengalokasikan banyak daerah korteks untuk fungsi-fungsi spasial-nya, otak mereka cenderung mengalokasikan sedikit daerah korteks untuk produksi dan penggunaan kata-kata dibandingkan dengan otak wanita, mengapa begitu?? Karena Corpus Callosum (sekumpulan saraf kecil yang menghubungkan belahan otak kanan dan kiri) kaum pria umumnya 25% lebih kecil bila dibandingkan dengan milik perempuan, sehingga ketika pemikiran atau perasaan akan berpindah (untuk diolah) dari otak kiri ke kanan, peluang perpindahan tersebut pada seorang lelaki lebih kecil 25 %. Ini perlu diperhatikan mengingat lelaki mengolah bahasa hanya di belahan kiri, sedangkan perempuan menggunakan enam atau tujuh daerah korteks di kedua belahan untuk mengolah bahasa (bayangkanlah sendiri…).
Ok sekarang balik lagi dari peng-ibaratan yang mungkin di anggap rumit oleh sebagian orang (termasuk saya juga sih…). Nah untuk itu, bagai mana suatu hubungan berkaitan dengan contoh di atas, apa kaitan nya, apa hubungannya, apa, apa dan apa… (ngok…)
Mudah saja jika diterapkan kedalam suatu hubungan, sebagai contoh di mana aku yang berkodrat sebagai Lelaki dan kamu dengan kodrat-nya sebagai Wanita.
Aku, gw, saya, urang, abdi, kulo, ane, beta, ambo, awak, ber-konseptualitas sebagai Pria yang banyak mempergunakan Akal, Logika di bandingkan dengan P-E-R-A-S-A-A-N (tapi bukan berarti saya & kaum Adam lain nya itu tidak berperasaan loh, awas jangan salah tafsir…), kami ini berdiri sebagai otak kiri yang bekerja secara urut, parsial, dan logis dengan analisis yang berarti membagi-bagi.
Sedangkan Kamu, dengan kodrat sebagai seorang wanita yang senang mempergunakan banyak perasaan di bandingkan pemikiran secara logis (baik disadari maupun tidak di sadari… hihi…). Disitulah engkau berdiri sebagai otak kanan yang berarti notabene cara berfikirnya secara acak, holistik dan kreatif dengan sintesis yang berarti menggabungkan hal-hal yang terpecah dan pola berpikirnya sesuai dengan “cara-cara” untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaaan dsb (merasakan kehadiran suatu benda atau orang, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi).
Dan diperjelas lagi bahwasanya saya sebagai Pria yang berperan sebagai Otak kiri memerlukan banyak sekali fakta dari pemikiran logis untuk sampai pada satu kesimpulan dan keputusan, sedangkan kamu dengan otak kanan-nya begitu senang berurusan dengan ketidak pastian (sehingga banyak wanita di dunia ini yang senang dengan HTS'an, maybe... ??? sotoy sedikit… ;p) dan lebih senang berkutat dengan ilmu-ilmu yang sukar di fahami dengan logika (ugh… I wish I know a lot of words “because they called a woman…”).
Cemberut tiba-tiba, menangis tiba-tiba, senang tiba-tiba, mungkin bagi kalian pernah ada yang mengalami dicakar tiba-tiba ?? (wah ini sih udah keterlaluan... ahaha…) dsb, bla… bla...
Berdasarkan penelitian nya, John Gray menyimpulkan bahwa adanya perbedaan kebutuhan primer antara pria dan wanita, yaitu:
- Wanita membutuhkan perhatian, pria membutuhkan kepercayaan,
- Wanita membutuhkan pengertian, pria membutuhkan penerimaan,
- Wanita membutuhkan rasa hormat, pria membutuhkan penghargaan,
- Wanita membutuhkan kesetiaan, pria membutuhkan kekaguman,
- Wanita membutuhkan penegasan, pria membutuhkan persetujuan,
- Wanita perlu jaminan, pria perlu dorongan.
Dan kesimpulannya (haha… *ketawa dulu bentar). Mungkin tidaklah adil jika suatu hubungan diatas hanya dipandang secara harfiah dimana saklek Pria berdiri sebagai Otak Kiri dan Wanita sebagai Otak kanan yang akhirnya menghasilkan suatu penerapan konseptualitas dalam hubungan dengan system kerja kedua-belah Otak. Maka dari itu sebagai Pria tidaklah haram untuk mencoba berdiri sebagai Otak Kanan, bahkan untuk memahaminya sekalipun, mencoba memposisikan dan melihat sesuatu dari sudut pandang seorang Wanita, sehingga lebih mampu untuk memahami segala pandangannya, merasakan segala keluh kesahnya (kecuali untuk merasakan rutinitas “bulanan”-nya ya, itu sangat sulit! haha), memahami jalan pikirannya dan segala kerumitan pribadinya, demikian juga sebaliknya, untuk seorang Wanita cobalah untuk berpikir dari sudut pandang Pria, melihatnya secara logika, memahami tanggung jawabnya, dan perasaan-perasaan yang sangat sulit untuk di mengerti lainnya (SANGGUP ???).
Kita ambil contoh, mungkin dari beberapa Film yang pernah ada, lengkap dengan hasil pemikiran-pemikiran orang-orang hebat didalam nya, hampir semua kerumitan-kerumitan suatu hubungan apabila di jalani dengan keseimbangan yang berkesinambungan pasti akan berhasil (AMIEN), mencoba mengerti, memahami dan saling menyayangi antar kedua belah pihak. (yeah… maybe we don’t need live like the movie, but sometimes the movie had a story like your life... \m/).
Pria juga pada dasar nya punya perasaan atau sisi melankolis dari ketegaran hatinya yang (mungkin) bagi sebagian orang (kaum hawa) terlihat seperti baja keras, batu karang, titanium dsb… bla… bla… (inget Pria tulen ya, tanpa terkecuali !!!)
Maka dari itu buka mata, buka hati, buka telinga (dan jangan buka-bukaan di depan kamera, INGET!!!) lihatlah di balik semua itu banyak sekai bermunculan (atau apalah itu namanya…) sebuah “irama-irama” yang mendayu-dayu, berdarah-darah, bercucur-cucur dsb… bla… bla…
Please deh kami berperasaan tapi jangan gambarkan secara mendayu-dayu, bikin irama yang lebih bermutu, syair-syair yang lebih bermakna, pesan-pesan yang lebih mendalam, DONE. Maka selamat berkembanglah Indonesia-ku, \m/.
Taraaa… konsep yang diangkat diatas adalah kurang lebih hanya sebagai kiasan pola pikir secara Universal dengan Otak sebagai penjabarannya (mungkin besok lusa, kiasan pada penjabarannya menggunakan konsep phytagoras, e=mc², atau dalam teori relativitas mungkin, mungkin itu juga yaaa, mungkin loh... O_o’).
So, selamat tertawa karena tertawa itu terjadi tanpa sadar telah diatur oleh otak kanan yang menghasilkan gelombang alfa di dalam tubuh sehingga membuat pikiran menjadi rileks (jadi jangan di tahan-tahan). Dan ingat mereka-mereka yang banyak tertawa akan lebih sedikit terserang penyakit jantung (40% lebih rendah) daripada mereka yang sering murung, untuk itu tertawalah 17 menit sehari untuk me-reload waktu hidup kita selama satu hari (lumayan +1) dan tertawalah selama satu menit dari pada anda harus menebusnya dengan bersepeda selama 10 menit (siul), karena sebenarnya kita makhluk dewasa Cuma bisa tersenyum dan tertawa sebanyak 15 kali sehari. So, don’t missed it to laugh out loud everyday !!! (maka dari itu mintalah orang tua kamu, kakak-kakak kamu, adek-adek kamu, sodara-sodara kamu, pacar-pacar kamu, teman-teman kamu, sahabat-sahabat kamu, selingkuhan-selingkuhan kamu (*ups), dan siapa-siapanya kamu untuk selalu membuatmu tertawa)
*Sampai bertemu di draft 2 (yang mungkin entah kapan mengudaranya), gud bay, semoga selamat sampai tujuan.
Salam
-tehmanisanget feat sarasvati - oh I never know-

Time:

Time:

